Waktu sekolah dulu, guru bahasa Indonesia saya pernah menjelaskan tentang makna peribahasa. Salah satu yang paling saya ingat adalah peribahasa “bagai air di daun talas”. Ketika disebutkan kalimat tersebut, yang saya bayangkan adalah setitik air di atas daun yang terombang ambing mengikuti gerakan daun tanpa kejelasan arah mau ke mana. Memang cocok sekali untuk menggambarkan seseorang yang senang mengikuti trend.

Orang semacam itu seperti tidak punya jati diri. Hanya “ngalor ngidul” tanpa dirinya sendiri pun tahu mau apa dan ke mana. Yang penting “eksis” saja. Berusaha memenuhi ekspektasi semua orang. Kadang yang lebih memprihatinkan, mereka seolah sok tahu tentang segala sesuatu. Sedangkan kenyataannya tidak seperti itu juga.
Misalnya ketika ada obrolan tentang “A” ya “nyaut” saja. Orang lain membicarakan “B” diikuti juga. Tidak pernah mau ketinggalan momentum apa pun. Merasa menguasai segala bidang. Jika ditarik garis lagi, ujung dari kebiasaan ini adalah demi sebuah pencitraan. Sayangnya bukan menjadi terlihat hebat, justru yang sering kelihatan adalah ketidakjujurannya. Kalau sudah begitu, tujuannya ingin mendapat pengakuan “baik” dari orang lain malah tidak akan didapat. Sungguh kasihan.
Menurut saya, cara personal branding seperti itu adalah kurang tepat. Tidak ada gunanya, baik untuk diri kita maupun orang lain. Di atas semua itu yang lebih penting adalah kejujuran. Tidak baik menutupi kekurangan diri dengan berbagai kebohongan. Karena jika suatu hari terungkap, tidak ada lagi yang mau mempercayai.
Membangun citra diri positif memang perlu, tapi harus dengan cara yang tepat. Sesuaikan dengan kapasitas dan kemampuan diri. Bukankah lebih berkelas jika terlihat biasa saja tapi sebenarnya bisa daripada tampak luar biasa tapi tidak ada isinya?
Toh, kalau ingin menjadi pribadi yang lebih “berisi” banyak kok cara yang lebih mulia. Cukup dengan tidak malu untuk belajar dan bertanya. Jangan menganggap diri sendiri “si paling bisa” atau “si paling kuasa”. Ingat, di atas langit masih ada langit. Sekian.