Bantengan Harus bisa hidup di sekolah
SMPN Satu Atap Pesanggrahan 2 Batu yang terletak di lereng gunung Panderman merupakan satu satunya sekolah menegah pertama yang ada di dusun Tuyomerto. Untuk menuju sekolah ini, kita harus melewati jalan yang menikuk dan menjulang tinggi. Jalan itu bernama jurang dowo. Bagi orang yang belum pernah dan tidak terbiasa melewati jalan ini, mereka pasti akan merasa ketakutan.
Sama halnya dengan saya yang waktu itu baru pertama kali mengunjungi sekolah di daerah tersebut. Rasa takut dan “ngeri” yang teramat membuat bulu kuduk rasanya berdiri. Jalan yang menanjak tinggi, membuat sepeda motor berjalan seolah membawa beban berat. Namun lambat laun, saya pun terbiasa dengan kondisi jalan tersebut.
Selain terkenal dengan jumlah sapi yang lebih banyak dari penduduknya, dusun ini juga terkenal dengan kesenian tradisionalnya seperti barongan dan bantengan. Suatu ketika di sekolah mengadakan sebuah kegiatan pembelajaran yang bertemakan drama. Anak-anak diminta untuk membuat dan mempraktekkan drama yang telah mereka buat. Tidak disangka ternyata drama yang dibuat anak-anak adalah drama tentang bantengan. Tidak dapat dibayangan sebelumnya, bantengan yang begitu banyak tiba-tiba menyerbu sekolah.
Lalu apakah sekolah mengijinkan kegiatan bantengan tersebut? Mungkin sebagian orang akan menanyakan hal tersebut. Bagi kami bantengan adalah sebuah tradisi kesenian yang sudah membudaya bagi anak-anak yang ada di sekolah kami. Bantengan ini biasanya dimainkan oleh dua orang. Satu orang bertugas menjadi kepala dan satu orang menjadi ekor nya. Biasanya bantengan ini juga disertai dengan macan yang berwarna kuning atau oranye.
Bantengan yang dimainkan anak-anak ternyata lumayan berat. Saya pernah bertanya kepada pemain bantengan ternyata beratnya 4-5 kg untuk kepalanya saja. Itupun untuk ukuran yang tidak terlalu besar. Biasanya para pemain bantengan ini juga ada yang kesurupan. Tapi kalo di sekolah biasanya mereka hanya berpura pura saja supaya lebih menarik perhatian.
Ketika melihat anak-anak memainkan bantengan di sekolah, entah mengapa saya selalu merasa bahagia dan terus ingin tertawa. Tertawa karena melihat tingkah polah anak-anak yang lucu dan menarik hati. Terkadang saya tidak menyangka, anak- anak yang sangat malas, terlihat lesu ketika di kelas dan tidak mau mengerjakan tugas, ternyata sangat lihai dan penuh semangat ketika memainkan bantengan tersebut.

Tertawa geli ketika melihat seorang murid yang memiliki badan agak besar pun bisa sangat lihai melompat-lompat dan berlari kesana kemari mengimbangi bantengan dan macan yang sedang melakukan atraksi. Tertawa geli ketika melihat anak-anak memakan kemenyan dan berpura pura kesurupan demi menyenangkan banyak orang.
Tertawa bahagia ketika melihat anak-anak lelah namun mereka tidak menyerah dan tetap membuat kepala banteng tetap bergairah. Yah… kalian itu memang anak-anak yang luar biasa. Anak-anak yang mungkin tidak hebat dalam pengetahuan namun mereka ahli dalam bidang kesenian.
Oleh sebab itu, kita sebagai pendidik seharusnya tidak memandang sebelah mata seni bantengan tersebut. Kita sebaiknya menghargai kepercayaan yang anak-anak ketahui tentang seni bantengan dan hal hal magis yang ada di dalamnya. Jika kita tidak bisa melakukan hal tersebut, setidaknya kita bisa memberikan kesempatan kepada mereka untuk terus berkreatifitas dan mengembangkan bakat yang ada pada diri mereka tanpa batas.
Semoga dengan tulisan singkat ini seni bantengan bisa lebih diapresiasi di sekolah manapun. Akhirnya, saya hanya bisa berdoa semoga kesenian bantengan tetap jaya selalu.