Kemarin saya sempat kaget ketika membuka pesan whatsapp. Sosok teman yang selama ini jarang berkomunikasi tiba-tiba memberikan komentar pujian pada whatsapp story saya. Kebetulan saat itu saya sedang membagikan esai yang barusan terbit di media online.
Kemudian dia kembali mengirim pesan jika selama ini menjadi pengikut setia esai-esai saya. Saya agak bengong saja melihat kiriman pesan whatsapp dari teman tersebut. Sejujurnya saya insecure dengan esai yang saya tulis. Saya yang sebelumnya suka menulis di media mainstream seperti kompas, sindo, atau detik, entah mengapa akhir-akhir ini bergeser ke media-media yang lebih santai. Pikiran saya akhir-akhir ini memang agak-agak “nyastra” saja kayaknya.

Pengalaman hidup bersama keluarga kecil dan kolega menjadi titik inspirasi saya dalam menulis. Esai tentang keluarga maupun kolega beberapa bulan terakhir menjadi penyegar pikiran saya. Tertawa sendiri dalam menulis adalah hal biasa yang saya lakukan. Membayangkan ekspresi istri maupun teman yang kelak membaca esai itu menjadikan saya tertawa geli saat menulis.
Inspirasi dalam menulis itu sebenarnya tak terbatas. Semua hal bagi saya bisa menjadi sumber inspirasi untuk menulis esai, opini, puisi, cerpen atau buku. Tidak harus membahas hal yang “ndakik-ndakik”, tapi membahas hal sederhana dan bermakna ternyata sangat asik dan disukai oleh pembaca.
Jadi sebenarnya tidak ada alasan tidak bisa menulis karena tidak ada inspirasi, karena pengalaman hidup itu sendiri adalah inspirasi. Salam..