Saat ini budaya flexing atau pamer, sedang ramai diperbincangkan oleh masyarakat. Gara-gara kasus anak pejabat yang menganiaya remaja hingga menyebabkan koma, akhirnya sisi lain kehidupan anak pejabat tersebut menjadi sorotan masyarakat. Sorotan itu bukan hanya tertuju pada anaknya saja akan tetapi juga merembet ke gaya hidup orangtua.
Tidak cukup ke orangtua anak yang berkasus saja, akan tetapi saat ini sorotan itu mengarah kepada pegawai atau pejabat yang suka melakukan flexing gaya hidup mewah. Baru saja saya membaca surat edaran yang tersebar di media sosial tentang larangan menampilkan hidup mewah di media sosial oleh beberapa perusahaan besar.
Sekilas memang tidak ada yang salah dengan flexing. Itu adalah bagian dari hak seseorang. Permasalahan yang muncul kemudian adalah tentang sumber gaya hidup mewah tersebut. Di satu sisi masyarakat ekonomi kelas bawah menjerit karena kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, disisi lain ada kelompok masyarakat yang pamer gaya hidup glamor, tetapi hasil dari korupsi. Inilah kemudian penyebab kegaduhan karena ada kesenjangan dan rasa ketidakadilan di masyarakat.
Terkadang saya berpikir apa untungnya flexing gaya hidup mewah di media sosial. Saya biasa flexing tulisan yang terbit di media massa saja tiba-tiba ada teman yang wapri dan pinjam uang. Apalagi ketika saya pamer moge, barang branded, mobil, rumah, perhiasan, liburan ke eropa. Sudah pasti tiap hari ada saja yang pinjam uang dan sejenisnya.
Dikiranya ketika banyak tulisan saya yang terbit di media massa, lantas saya banyak uang. Padahal tidak semua tulisan saya dibayar. Saya hanya suka pamer gagasan dan curhatan melalui esai-esai. Karena tidak ada harta yang bisa saya pamerkan juga sih.
Batu, 12 Maret 2023
Eri Hendro Kusuma