Tri Windiyati, S.Pd
Terkadang takdir dari tuhan memang susah untuk diterjemahkan. Bahkan tidak sedikitpun terbersit dalam benak kita, kita akan dilahirkan dari rahim siapa dan akan mempunyai garis keturunan yang seperti apa nantinya. Kita sebagai manusia hanya bisa berpasrah diri dan harus selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikanNya. Terkadang, dalam menjalani sebuah kehidupan tidak semulus seperti apa yang kita inginkan. Allah akan menguji kita sesuai dengan apa yang Ia inginkan.
Sama halnya dengan keluargaku yang sekarang sedang diuji olehNya. Empat bulan sudah ibu saya menderita meningitis TB otak. Namun ada banyak hal yang bisa saya pelajari dengan merawat orang tua yang menderita sakit seperti itu. Hal pertama yang saya pelajari dan paling membuat hati saya tersentak yaitu bahwa anggapan anak laki-laki yang selama ini dianggap kurang bisa merawat orang tua adalah salah besar. Kakak laki-laki saya ternyata melakukan semua hal yang seharusnya dilakukan oleh anak perempuan mulai dari memandikan, menyuapi makan, dan mengganti pempers. Bahkan jika harus rawat inap di rumah sakit, kakak laki-laki sayalah yang harus menunggu disana karena saya dan adik bungsu saya harus bekerja. Ternyata anak laki-laki juga bisa sangat telaten dalam merawat seorang ibu yang sedang menderita dan tak berdaya sedikitpun.
Hal kedua yang saya pelajari dan pahami lebih dalam lagi bahwa ucapan “Surga di bawah telapak kaki Ibu” adalah benar adanya. Ketika kita masih kecil, yang merawat dan mencukupi semua kebutuhan kita adalah orang tua kita terutama ibu. Ibu yang mengandung dan merasakan sakit bahkan mempertaruhkan nyawanya untuk anaknya ketika melahirkan. Oleh sebab itu, ketika Ibu kita sakit, kita wajib untuk merawatnya.
Hal ketiga yang saya pelajari adalah kita sebagai manusia yang hidup sementara di dunia ini, tidak boleh sombong. Saya sering mendengar bahwa ketika kita sudah tua nanti, kita akan kembali seperti anak kecil. Dari pengalaman yang saya rasakan ketika merawat Ibu, hal tersebut memanglah benar. Ketika kita sudah tua dan tidak berdaya, kita akan sangat bergantung kepada orang lain. Kita tidak bisa melakukan apa-apa tanpa bantuan orang lain misalnya mandi harus dimandikan, makan harus disuapi, memakai popok, kemana-mana harus digendong, sudah meminta ini itu dan harus dituruti seperti anak kecil. Oleh sebab itu, dalam menjalani hidup, kita sebaiknya bersikap baik kepada siapapun dan tidak sombong.

Hal berikutnya yang saya pelajari adalah, belajar bersabar. Merawat orang tua dengan berbagai keterbatasan terkadang membuat emosi kita menjadi labil. Sabar adalah kuncinya. Kalau kita tidak bisa sabar dan mengontrol emosi, kita pasti akan stress sendiri. Bahkan diriwayatkan dalam hadis yang artinya: “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR Al Bukhari dan Muslim).
Dari hadis riwayat tersebut, kita sebaiknya berbakti dan memuliakan kedua orang tua kita selagi orang tua kita masih ada. Yakinlah bahwa dengan merawat orang tua dengan baik, hidup kita akan selalu dipenuhi dengan keberkahan. Jangan sampai menyia-nyiakan kedua orang tua kita, muliakan mereka karena ketika melihat mereka sakit atau bahkan sampai tiada, kita akan sangat berduka. Dan akhirnya saya hanya bisa berkata “Selamat Berburu Keberkahan di Bulan Ramadhan dan Semoga Amal Ibadah Kita diterima oleh Allah SWT”. Amiin.
Tri Windiyati, S.Pd, Guru Bahasa Inggris