Kepada Siapa Seharusnya "Berlosienisasi"?
Di depan ngomong A, di belakang ngomong B, yang diucapkan A eh nyatanya yang dikerjakan Z.
Dewasa ini budaya flexing atau kita sering menyebutnya dengan losienisasi (pencitraan) seperti menjadi sebuah kewajiban yang harus dilakukan setiap hari atau bahkan setiap menitnya.
Padahal jika dilihat dari kacamata agama islam perilaku tersebut adalah bentuk kemunafikan. Seringkali kita melihat apa yang ada di gambar/foto, tidak sesuai dengan realitanya. Perilaku ini seringkali bertujuan untuk mendapat citra baik di khalayak umum, terlebih warganet.
Sebuah cerita dari seorang ulama’, Imam Ibrahim at-taimi , saat itu kedatangan tamu dan beliau sedang dalam keadaan membaca mushaf, kemudian apa yang beliau lakukan? Imam Ibrahim At-Taimi segera menutup mushafnya dan segera menemui tamu tersebut.
Dari cerita tersebut bisa kita ambil hikmah, bahwa seorang alim ulama yang paham tentang agama sekalipun tidak butuh yang namanya losienisasi kepada manusia. Beliau malah lebih suka dianggap bukan seorang ahli ibadah, karena yang beliau butuhkan adalah losienisasi kepada Tuhan semesta alam.
Di zaman sekarang memang sulit membedakan orang yang sedang losienisasi atau tidak. Yang pasti, orang yang sedang melakukan losienisasi tampak luarnya berbeda dengan yang ada dalam dirinya.
So, mari kita perbaiki dari diri kita sendiri, berbuat sesuai dengan kebenaran yang memang terjadi, karena
لِسَانُ الْحَال أَفْصَحْ مِنْ لِسَانِ الْمَقَال
“Perbuatan itu lebih baik daripada ucapan.”
Wallahu a’lam bishowab (Allah maha tahu atas segala kebenaran)…
Ainin Nadhifa