drama bukan ekskul sekolah
Lirik lagu yang berbunyi “dunia hanyalah panggung sandiwara” sepertinya memang sangat nyata. Hampir setiap hari rasanya menjumpai drama dalam kehidupan, entah kadang terlibat langsung sebagai aktor drama yang bersangkutan atau hanya sebatas menjadi penonton saja. Tapi itulah realitanya, banyak drama yang terjadi dalam hidup ini dengan atau tanpa seizin kita.
Terkadang kita lebih memilih tidak reaktif dengan sesuatu hal untuk menghindari terjadinya drama. Ya, karena hidup dengan drama itu melelahkan. Kita harus berpura-pura, berimajinasi dan lain sebagainya. Itu cukup menguras banyak energi.
Namun adakalanya ketika keadaan memaksa kita terlibat dalam drama, tidak ada salahnya kita memang harus mengikuti alurnya. Seperti halnya saat menghadapi orang gila harus berpura-pura gila, saat menghadapi orang bodoh lebih baik berpura-pura bodoh, dan saat menghadapi orang yang penuh dengan drama, ikuti dan terlibat saja dengan alur drama yang dibuat.

Disitu kita bisa ikut menentukan ceritanya. Awalnya mungkin sangat menjengkelkan, tapi di akhir bisa juga menjadi drama komedi… hihihi.
Entalah, terkadang tidak habis pikir dan bingung sendiri melihat orang yang suka membuat hidupnya penuh dengan drama. Padahal hidup apa adanya jauh lebih menyenangkan. Mengapa harus membuat drama yang melelahkan demi terciptanya sebuah alasan. Mungkin agar bisa “flexing” ke orang-orang, sehingga orang akan terkesan.
Hiduplah apa adanya, tidak perlu membuat drama dengan banyak kebohongan hanya agar diterima orang-orang di sekitar. Karena ketika kita sudah melakukan yang terbaik namun tetap tidak diterima, mungkin bukan kita yang bermasalah melainkan orang lain. Tapi jika kita memang yang memutuskan untuk memakai topeng hanya agar diterima orang lain, maka sejatinya memang diri kitalah yang bermasalah dan kita mungkin perlu instrospeksi diri.
Batu, 16 Maret 2021
Cinthia Martiana