Lelah juga kan lama-lama menghadapi drama kehidupan? Saat ini sepertinya banyak sekali privasi orang lain yang kita jadikan masalah atau sebenarnya tidak begitu ada masalah tapi justru kita yang memunculkannya.
Entahlah, ya. Hidup sudah berat tapi kadang kita sendiri yang justru menambah bebannya. Seperti merasa kita adalah korban dari ketidakadilan dunia, merasa tidak mampu untuk menghadapi masalah, ingin menolong orang lain tapi malah kita yang terkena luka. Jadi, drama itu tidak hadir begitu saja. Justru kita yang menciptakannya atau kita yang mengundang dia masuk ke dalam hidup kita.

Sebenarnya hidup bisa dibuat lebih mudah. Kita tidak boleh terlalu menyalahkan keadaan. Kadang memang sudah waktunya saja kita berada di suatu masalah. Anggap saja Tuhan sedang memberi kita ruang untuk evaluasi diri. Sadari bahwa kehidupan memang tidak terlepas dari drama, tapi kita bisa mengurainya dengan mendeteksi bagaimana pengaruhnya terhadap diri kita.
Kalau tidak begitu berpotensi merugikan atau mengurangi rasa percaya diri kita ya biarkan saja. Biarkan semua mengalir. Tidak apa-apa, semua hal yang terjadi biarlah terjadi. Nikmati saja sedih dan kecewanya. Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Masalah itu ada berarti menandakan bahwa kita hidup.
Untuk mengurangi drama cobalah untuk tidak terlalu reaktif terhadap segala sesuatu. Kita bisa memilih untuk menyikapi hidup yang dramatis ini dengan lebih bijak. Intinya kreator drama itu ya diri kita sendiri. Mau dibuat seperti apa jalan ceritanya ya tergantung kreatornya. So, mari hidup dengan apa adanya. Minimalisasi drama agar tenang di jiwa.
Deni Iska Dian Nita, esais